Ayo ngaku, siapa yang suka buang minyak bekas pakai secara sembarangan? Ternyata, minyak goreng yang sudah digunakan beberapa kali yang sudah mengalami perubahan warna, aroma, dan kualitas sehingga tidak lagi layak digunakan untuk memasak tidak boleh dibuang begitu saja.
Dengan mengolah dan menyalurkannya melalui cara yang tepat, minyak jelantah dapat memiliki manfaat baru sekaligus membantu mengurangi limbah rumah tangga. Sejalan dengan semangat Too Good To Waste (TGTW), yaitu inisiatif dari Ajinomoto Group untuk memaksimalkan pemanfaatan bahan di dapur.
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan minyak jelantah dalam wadah tertutup dan menyalurkannya kepada pihak yang dapat mengelolanya lebih lanjut.
Kenapa Minyak Jelantah Sebaiknya Tidak Dibuang Sembarangan?
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan untuk proses menggoreng. Minyak yang sudah berubah warna menjadi sangat gelap, berbau tengik, atau mengalami perubahan kualitas sebaiknya tidak digunakan kembali untuk memasak.
Minyak goreng memiliki sifat yang sulit bercampur dengan air. Jika dituangkan ke saluran pembuangan, minyak dapat menempel pada permukaan pipa dan berpotensi menyebabkan saluran tersumbat.
Selain itu, minyak yang masuk ke lingkungan juga dapat mengganggu kualitas air dan tanah. Oleh karena itu, minyak jelantah sebaiknya dikumpulkan dan dikelola dengan cara yang lebih tepat.
Cara Memanfaatkan Minyak Jelantah
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memberikan manfaat baru pada minyak jelantah. Namun, pastikan minyak yang digunakan sudah tidak tercampur dengan bahan lain dan ditangani dengan aman.
1. Pembuatan Lilin Aromaterapi
Minyak jelantah dapat diolah menjadi lilin aromaterapi. Caranya, saring minyak jelantah terlebih dahulu untuk memisahkan kotoran, lalu panaskan dengan hati-hati. Setelah itu, campurkan dengan bahan pengeras seperti stearin, tambahkan pewangi, kemudian tuangkan ke dalam wadah yang sudah diberi sumbu. Biarkan hingga mengeras sebelum digunakan.
2. Manfaatkan untuk Membuat Sabun
Minyak jelantah dapat diolah menjadi sabun melalui proses saponifikasi. Pertama, minyak disaring dan dimurnikan dari partikel makanan. Selanjutnya, minyak dicampurkan dengan larutan alkali seperti soda api sesuai takaran dalam resep sabun.
Campuran kemudian diaduk hingga mengental, diberi pewangi jika diperlukan, lalu dituangkan ke cetakan dan dibiarkan hingga mengeras serta melalui proses curing. Karena melibatkan bahan kimia korosif, proses ini perlu dilakukan dengan perlengkapan pelindung dan mengikuti panduan pembuatan sabun yang aman.
3. Sebagai Bahan Bakar Biosolar
Minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Caranya, minyak jelantah perlu disaring dan dimurnikan terlebih dahulu, kemudian melalui proses kimia untuk mengubah minyak menjadi biodiesel.
Proses ini membutuhkan bahan, peralatan, dan penanganan khusus sehingga sebaiknya dilakukan oleh pihak yang memiliki fasilitas dan pengetahuan yang memadai. Minyak jelantah tidak dapat langsung dituangkan ke tangki kendaraan sebagai pengganti biosolar.
4. Bahan Bakar Lampu Minyak
Minyak jelantah juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar lampu minyak sederhana. Sebelum digunakan, minyak perlu disaring hingga bersih dari sisa makanan dan ditempatkan dalam wadah lampu yang sesuai. Sumbu kemudian dipasang hingga menyentuh minyak dan ujungnya berada di atas permukaan.
Saat dinyalakan, gunakan di area yang memiliki ventilasi baik dan jauhkan dari benda yang mudah terbakar karena minyak jelantah dapat menghasilkan asap dan aroma yang cukup kuat.
5. Salurkan ke Pihak yang Mengolah Minyak Jelantah
Jika tidak ingin mengolahnya sendiri, cara paling praktis adalah mengumpulkan minyak jelantah dan menyalurkannya kepada pihak yang dapat mengolahnya. Setelah minyak dingin, saring terlebih dahulu untuk memisahkan sisa makanan, kemudian simpan dalam botol atau wadah tertutup yang bersih dan kering.
Jika sudah terkumpul cukup banyak, minyak dapat disetorkan ke bank minyak jelantah, komunitas, atau pengelola limbah yang tepercaya untuk diproses menjadi produk atau bahan baku lainnya.
Apakah Minyak Jelantah Bisa Digunakan Kembali untuk Memasak?
Minyak goreng pada dasarnya masih dapat digunakan kembali dalam kondisi tertentu. Namun, kualitas minyak perlu diperhatikan sebelum dipakai untuk menggoreng lagi.
Jika minyak sudah berubah warna menjadi sangat gelap, berbau tengik, terlalu banyak menghasilkan asap, atau terdapat banyak remah makanan, sebaiknya minyak tidak digunakan kembali untuk memasak.
Jika minyak masih dalam kondisi baik, saring setelah digunakan untuk menghilangkan partikel makanan, lalu simpan dalam wadah yang bersih dan tertutup. Sebaiknya hindari penggunaan minyak berulang kali dalam jumlah yang terlalu banyak karena pemanasan berulang dapat menurunkan kualitas minyak.
Mengelola Minyak Jelantah sebagai Bagian dari Too Good To Waste
Kebiasaan memaksimalkan bahan dan sumber daya di dapur dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Salah satunya adalah mengelola minyak jelantah dengan lebih bijak daripada membuangnya sembarangan.
Semangat ini sejalan dengan Too Good To Waste (TGTW), inisiatif dari Ajinomoto Group untuk memaksimalkan bahan di dapur. Melalui kebiasaan mengolah dan memanfaatkan bahan secara maksimal, kita dapat ikut mengurangi potensi limbah sekaligus menciptakan penggunaan baru dari sesuatu yang sudah tidak digunakan untuk kebutuhan awalnya.
Jadi, setelah selesai memasak, jangan buru-buru menyingkirkan minyak jelantah. Dinginkan, saring, simpan dalam wadah yang tepat, lalu salurkan kepada pihak yang dapat mengelolanya.
Langkah kecil dari dapur ini bisa menjadi bagian dari kebiasaan yang lebih bijak dan mendukung semangat Too Good To Waste.
Baca Juga: