Cek Fitur Ini di Aplikasi, Yuk!
Fitur ini hanya bisa diakses melalui aplikasi Dapur Umami. Buka aplikasinya sekarang!
Penulis: Azzahra Ilka Aulia
Kalau kamu pernah datang ke acara syukuran, ulang tahun, selametan, atau peresmian sesuatu, kemungkinan besar kamu pernah melihat tumpeng. Tumpeng adalah nasi berbentuk kerucut yang dikelilingi aneka lauk pauk.
Tapi, tumpeng bukan sekadar nasi yang dibuat tinggi dan dihias cantik. Di balik tampilannya yang meriah, tumpeng punya filosofi dan nilai budaya yang tinggi.
Yuk, kita kupas tuntas soal apa itu tumpeng, makna di balik bentuknya, tradisi memotongnya, hingga resep tumpeng yang bisa kamu coba sendiri di rumah.
Tumpeng adalah hidangan tradisional Indonesia yang terdiri dari nasi (biasanya nasi kuning atau nasi putih) yang dibentuk menyerupai gunung atau kerucut, lengkap dengan lauk-pauk yang ditata melingkar di sekelilingnya.
Nama “tumpeng” sendiri konon berasal dari akronim bahasa Jawa, yaitu yen metu kudu mempeng yang artinya “kalau mau hidup, harus sungguh-sungguh”. Ini menggambarkan semangat hidup, perjuangan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Tumpeng sering disajikan saat acara penting, seperti kelahiran, pernikahan, ulang tahun, peresmian, hingga syukuran. Menyajikan tumpeng bukan hanya soal makanan, tapi juga soal menyampaikan rasa syukur dan doa.
Kenapa tumpeng bentuknya harus kerucut? Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bentuk kerucut menyerupai gunung, yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa atau leluhur. Gunung adalah simbol kehidupan, keseimbangan alam, dan tempat yang suci.
Bentuk kerucut juga melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (di atas), serta hubungan horizontal antar manusia (dilambangkan oleh lauk yang mengelilinginya).
Jadi, saat kita melihat tumpeng, sebenarnya kita sedang melihat miniatur filosofi kehidupan, yaitu hubungan spiritual dan sosial yang saling terhubung.
Tidak lengkap rasanya tumpeng tanpa lauk-pauk khasnya. Tapi lagi-lagi, ini bukan sekadar pelengkap rasa. Setiap lauk punya maknanya masing-masing.
Penataan lauk juga tidak sembarangan. Semuanya diletakkan mengelilingi nasi kerucut, yang artinya semua aspek kehidupan saling melengkapi dan berputar mengelilingi pusat, yaitu Tuhan sebagai sumber kehidupan.
Pemotongan tumpeng bukan sekadar seremonial, tapi punya makna simbolis yang dalam. Ada urutan, tata krama, dan filosofi tersendiri yang mencerminkan rasa syukur, penghormatan, hingga harapan baik.
Dalam tradisi Jawa, orang yang memotong tumpeng pertama kali biasanya adalah orang yang paling dituakan atau yang paling dihormati dalam acara tersebut, bisa kepala keluarga, pemimpin acara, atau tamu kehormatan.
Kalau dalam ulang tahun, biasanya yang berulang tahun akan memotong bagian paling atas dari tumpeng dan memberikannya kepada orang yang dianggap paling berjasa, seperti orang tua atau pasangan. Ini sebagai tanda terima kasih dan penghormatan.
Memotong tumpeng ada cara dan maknanya sendiri. Biasanya, bagian puncak atau kerucut diambil dulu, lalu diserahkan ke orang yang dihormati. Ini melambangkan doa dan penghormatan kepada orang yang dianggap penting dalam hidup.
Setelah itu, bagian bawah baru dipotong dan dibagi rata untuk semua tamu. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan syukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan.
Kalau kamu ingin mencoba membuat tumpeng sendiri di rumah tapi takut ribet, coba dulu versi sederhananya, Tumpeng Mini Merdeka ala SAORI®. Cocok buat bekal anak, perayaan kecil di rumah, atau sekadar latihan bikin tumpeng mini sebelum bikin yang versi besar.
Bahan-Bahan:
Bahan Tempe Teriyaki:
Bahan Nasi Tumpeng:
Bahan Stir Fry Vegetable:
Bahan pelengkap:
Cara Membuat:
Kalau kamu selama ini cuma melihat tumpeng sebagai "nasi kuning kerucut buat syukuran", semoga sekarang kamu bisa melihatnya dengan cara yang berbeda. Bahkan, kamu juga bisa mulai membuat tumpeng sendiri di rumah, baik dalam versi mini atau full set.
Jelajahi lebih banyak resep masakan Nusantara dan kekayaan kuliner Indonesia lainnya di Dapur Umami!