3 Kunci Masak Lezat sambil Menjaga Nutrisi

Mana sih yang lebih penting saat masak? Lezat atau sehat? Buat para master chef, kedua hal ini bisa didapatkan dengan mudah, bahkan nyaris otomatis. Tapi tidak begitu dengan sebagian besar dari kita. Kita perlu memperhatikan apakah kuliner yang kita hasilkan bisa lezat sambil tetap memiliki kandungan gizi yang kita butuh. Berikut ini tiga kunci yang bisa Mama pegang saat masak sayur. 


Mengenali Titik Masaknya

Ketika perlu membuat sayur bening seperti sop sayur atau sayur asem, kita perlu akrab titik masak untuk masing-masing sayuran. Dengan begitu, sayuran tidak akan terlalu lama di atas kompor yang menyala. Titik masak wortel dan kubis pasti berbeda. Butuh waktu lebih lama untuk membuat wortel masak. Karena itu, wortel harus masuk lebih dulu. Kubis harus paling akhir agar nutrisinya masih tersimpan saat memasak selesai. 


Ini sangat penting karena tujuan kita makan sayur tentu saja untuk mendapatkan kekayaan gizinya. Jangan sampai gizi yang berlimpah itu akhirnya banyak yang rusak hanya karena kita terlalu lama memasaknya. Lagi pula, banyak sayuran yang rasanya jadi aneh kalau terlalu lama dipanaskan, seperti buncis misalnya. Jadi yang pertama itu harus dipegang: Kenali titik masak masing-masing sayuran.  


Masak Sayur Perlu Akrab Titik Didihnya

Masak Sayur Perlu Akrab Titik Didihnya


Mengukus Lebih Baik daripada Merebus 

Ini satu hal mendasar kalau Mama ingin menjaga kandungan gizi makanan. Untuk sayuran, mengukus adalah cara terbaik untuk mempertahankan gizinya. Dengan mengukus, sayuran bisa kita makan dalam keadaan matang, higienis, dan cenderung lebih lunak. Yang lebih penting, kandungan nutrisi yang ada di dalam sayuran tidak pergi ke mana-mana. Bahkan kandungan vitamin A dalam sebagian sayuran jadi lebih besar. 


Ini berbeda dengan merebus. Ketika merebus sayuran, sebagian dari gizinya ikut larut ke dalam air rebusan. Akan bagus kalau kita juga menggunakan air rebusannya untuk kaldu sayur atau sebagai kuah untuk sayuran tersebut. Tapi, sayangnya tidak semua orang suka menghabiskan kuah sayuran. Kalau sudah begitu, nilai terbesar dari sayuran itu akan ikut terbuang. 


Tantangannya ada di rasa. Saat merebus, penyedap rasa bisa meresap lebih rata ke sayuran, sementara tidak begitu saat makanan dikukus. Tapi, bukankah ini malah jadi tantangan buat Mama untuk mencoba berbagai resep baru? 


Menumis Lebih Baik dari Menggoreng 

Nah, yang terakhir ini yang paling mengasyikkan. Biasanya menumis bisa menghasilkan cita rasa yang kuat. Tapi, di sini yang paling penting bukan cita rasanya, tapi apa yang masuk ke dalam bahan makanan. Menggoreng jelas-jelas membutuhkan minyak yang jumlahnya relatif lebih banyak. Minyak itu akhirnya juga akan ikut meresap ke dalam bahan makanan. 


Dengan menumis, kita lebih bisa menentukan sebanyak apa minyak yang kita inginkan di dalam makanan kita. Saat menumis, biasanya kita menggunakan sedikit minyak yang kita panaskan di pan. Tidak hanya minyak kelapa sawit, kita juga bisa memakai minyak zaitun yang lebih sehat itu. Kita tinggal memanaskan minyak dan menumis bumbu-bumbunya. Baru setelah harumnya tercium, kita bisa masukkan bahan-bahan yang ingin kita tumis, baik itu daging maupun sayur. Kemudian kita tinggal lanjutkan memasak hingga bumbu meresap. 


Menumis ini bisa dibilang cara mempertahankan nutrisi yang paling mudah. Kita bisa menjaga nutrisi yang ada dalam makanan, mendapatkan kuliner yang lezat, dan tidak terlalu banyak lemak yang masuk ke dalam makanan kita. 


Begitulah tiga prinsip dasar masak yang bisa kita praktikkan saat mencoba resep masakan rumahan. Dengan mengenali tiga prinsip dasar ini, Mama bisa lebih fokus mencari berbagai resep lain yang bisa membantu menghasilkan hidangan yang lezat sekaligus bergizi. 


sumber:https://pixabay.com/id/photos/sayuran-buah-buahan-makanan-bahan-1085063/