Cek Fitur Ini di Aplikasi, Yuk!
Fitur ini hanya bisa diakses melalui aplikasi Dapur Umami. Buka aplikasinya sekarang!
Butter atau mentega adalah salah satu bahan dapur yang hampir selalu ada, terutama buat kamu yang suka memasak atau baking. Fungsinya bukan cuma sebagai penambah rasa, tapi juga memberi aroma khas dan tekstur yang lebih lembut pada makanan.
Mulai dari olesan roti, tumisan, sampai bahan utama dalam pembuatan kue, butter punya peran penting di berbagai hidangan. Tapi ternyata, jenis butter itu nggak cuma satu. Yuk, kenali jenis-jenis butter dan fungsinya dalam memasak!
Berikut ini beberapa jenis butter yang umum digunakan beserta kegunaannya dan cara menyimpannya dengan benar.
Unsalted butter adalah mentega tanpa tambahan garam. Butter ini dibuat murni dari krim susu sehingga rasanya lebih netral.
Jenis ini sering jadi pilihan utama dalam baking karena memungkinkan kamu mengontrol jumlah garam dalam resep. Kegunaan butter jenis ini adalah membuat kue seperti kukis, kue, pancake, roti, dan dessert.
Unsalted butter bisa disimpan di kulkas dalam wadah tertutup agar tidak menyerap bau dari bahan lain. Bisa juga disimpan di freezer untuk pemakaian lebih lama.
Salted butter adalah mentega yang sudah ditambahkan garam. Biasanya, sekitar ¼ sendok teh garam ditambahkan untuk setiap 100 gram butter. Garam ini membantu meningkatkan rasa alami makanan sehingga cocok untuk masakan sehari-hari.
Untuk baking, salted butter biasanya kurang disarankan karena kadar garamnya bisa berbeda-beda di setiap produk sehingga hasil akhir bisa kurang konsisten. Salted butter ini ideal untuk menumis sayuran, membuat saus pasta, telur orak-arik, atau sebagai olesan roti dan jagung bakar.
Cara menyimpan salted butter ini cukup mudah karena hanya disimpan di kulkas agar tetap segar. Karena mengandung garam, biasanya lebih tahan lama dibanding unsalted butter.
Cultured butter adalah mentega yang dibuat melalui proses fermentasi. Krim susu diberi bakteri baik, lalu didiamkan sebelum diolah menjadi butter. Proses ini menghasilkan rasa yang lebih kompleks dan sedikit asam.
Tekstur cultured butter juga biasanya lebih lembut dengan aroma yang lebih kuat dibanding butter biasa. Cocok untuk membuat coffee cake, risotto, sup, atau sekadar dioleskan pada roti hangat.
Di beberapa negara Eropa, cultured butter sangat populer dan sering digunakan untuk roti atau pastry premium. Simpan jenis butter ini di kulkas dengan wadah tertutup rapat agar tidak terkontaminasi bau dari bahan lain.
Clarified butter adalah butter yang telah dipisahkan dari air dan padatan susu sehingga hanya menyisakan lemak murni. Salah satu keunggulan utama clarified butter adalah titik asapnya yang tinggi sehingga tidak mudah gosong saat digunakan untuk memasak dengan suhu tinggi.
Selain itu, clarified butter juga memiliki rasa yang lebih ringan dibanding butter biasa karena tidak mengandung padatan susu. Sangat cocok untuk menggoreng, menumis, memasak steak, atau membuat saus.
Clarified butter bisa disimpan di suhu ruang dalam wadah tertutup, tetapi akan lebih aman jika disimpan di kulkas untuk menjaga kualitas.
Ghee adalah bentuk lanjutan dari clarified butter yang dimasak lebih lama hingga menghasilkan aroma yang lebih kaya dan sedikit nutty. Warna ghee biasanya lebih keemasan dengan rasa yang lebih dalam.
Ghee sangat populer dalam masakan India dan Timur Tengah karena tahan panas tinggi dan memberikan aroma khas pada masakan. Selain itu, ghee juga sering dipilih karena tidak mengandung laktosa dan protein susu.
Ghee cocok digunakan untuk memasak kari, menumis bumbu, menggoreng, atau menambah aroma pada nasi dan hidangan lainnya. Jenis ini bisa disimpan di suhu ruang dalam waktu lama tanpa kulkas, selama wadahnya tertutup rapat dan bersih.
Sweet cream butter dibuat dari krim segar yang telah dipasteurisasi. Meskipun disebut “sweet”, butter ini tidak mengandung tambahan gula karena rasa manisnya berasal dari krim itu sendiri.
Jenis ini adalah butter yang paling umum ditemukan di pasaran dan tersedia dalam versi asin maupun tawar. Versi tawar cocok untuk muffin, brownies, dan frosting, sedangkan versi asin cocok untuk olesan roti, biskuit, atau jagung rebus.
Jenis butter ini bisa disimpan di kulkas dalam wadah tertutup agar tetap segar dan tidak menyerap aroma lain.
Plant butter adalah alternatif butter berbahan dasar nabati, biasanya dibuat dari minyak kelapa, zaitun, atau minyak nabati lainnya.
Jenis ini cocok untuk kamu yang menjalani pola makan vegan atau menghindari produk susu. Meskipun berbasis tanaman, tekstur dan rasanya dirancang agar menyerupai butter biasa.
Namun, hasilnya dalam baking bisa sedikit berbeda tergantung komposisinya, jadi perlu penyesuaian resep. Bisa digunakan untuk baking, memasak, maupun sebagai olesan roti. Simpan di kulkas agar teksturnya tetap stabil dan tidak mudah meleleh.
Grass fed butter berasal dari susu sapi yang diberi pakan rumput alami. Hal ini membuat warna butter lebih kuning cerah dan rasanya lebih kaya. Cara penyimpanannya adalah simpan di kulkas atau freezer agar tetap segar dan tahan lama.
Butter ini juga dikenal memiliki aroma yang lebih segar sehingga cocok untuk hidangan yang ingin menonjolkan rasa alami. Cocok untuk memanggang sayuran, membuat saus, atau digunakan dalam kue seperti pie dan kukis.
European butter memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi, sekitar 82%, dibanding butter biasa yang mengandung hanya 80%. Kandungan lemak ini membuat teksturnya lebih lembut dan rasanya lebih kaya.
Butter ini sangat populer untuk membuat pastry karena menghasilkan tekstur yang lebih flaky dan lembut, seperti pada croissant atau puff pastry.
Selain itu, warna European butter juga cenderung lebih kuning karena kualitas krim yang digunakan. Bisa disimpan di kulkas dalam wadah tertutup rapat agar kualitasnya tetap terjaga.
Setiap jenis butter memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda dalam memasak. Dengan memahami perbedaan ini, kamu bisa memilih butter yang paling sesuai dengan kebutuhan, baik untuk memasak sehari-hari maupun baking.
Jadi, jangan ragu untuk mencoba berbagai jenis butter agar hasil masakanmu makin maksimal dan lezat!
Baca Juga: Perbedaan Margarin dan Mentega: Mana yang Lebih Baik untuk Memasak?