Cek Fitur Ini di Aplikasi, Yuk!
Fitur ini hanya bisa diakses melalui aplikasi Dapur Umami. Buka aplikasinya sekarang!
Penulis: Aulia Rusdi, S.Gz, Dietisien
Gorengan sering menjadi pilihan favorit saat berbuka puasa karena rasanya gurih dan mudah ditemukan sebagai menu takjil. Sehingga banyak orang yang merasa tidak lengkap saat berbuka sebelum menyantap gorengan. Padahal, ada bahaya mengincar tubuh kamu ketika mengonsumsi gorengan secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak.
Setelah berpuasa seharian, kondisi lambung dan sistem pencernaan cenderung lebih sensitif terhadap jenis makanan tertentu. Dari sisi gizi, makanan yang digoreng umumnya mengandung lemak dan energi yang cukup tinggi, terutama jika diolah dengan minyak dalam jumlah banyak atau digunakan berulang kali.
Penelitian dalam jurnal Heart (2021), juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan goreng secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan metabolik hingga penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak konsumsi gorengan agar tetap dapat menikmati hidangan berbuka secara lebih bijak dan seimbang.
Beberapa jenis gorengan populer yang sering dikonsumsi saat berbuka antara lain bakwan sayur, tahu isi, tempe goreng, pisang goreng, risoles, dan pastel goreng. Variasi jenis dan rasanya membuat gorengan kerap dijadikan camilan pembuka sebelum makanan utama. Meski demikian, konsumsinya sebaiknya tetap dibatasi agar asupan lemak dan energi tidak berlebihan saat berbuka puasa.
Konsumsi gorengan saat berbuka puasa sebaiknya tidak berlebihan karena dapat memberikan beberapa dampak bagi tubuh, seperti:
Makanan yang digoreng umumnya mengandung lemak cukup tinggi sehingga proses pencernaannya cenderung lebih lambat. Setelah perut kosong seharian, konsumsi makanan berlemak tinggi dapat membuat perut terasa penuh atau tidak nyaman.
Gorengan dapat merangsang produksi asam lambung, terutama jika dikonsumsi saat perut masih kosong. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa perih atau tidak nyaman pada lambung, terutama pada orang yang sensitif atau memiliki riwayat gangguan lambung.
Kandungan lemak pada gorengan dapat membuat seseorang merasa cepat kenyang. Akibatnya, asupan makanan bergizi lain seperti sayur, buah, atau sumber protein bisa menjadi berkurang.
Proses penggorengan membuat makanan menyerap minyak sehingga kandungan kalorinya meningkat. Jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah banyak, hal ini dapat menyebabkan asupan energi menjadi berlebih.
Jika dikonsumsi terlalu sering selama bulan puasa, gorengan dapat memberikan beberapa dampak bagi kesehatan.
Gorengan yang dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan asupan lemak, terutama jika menggunakan minyak yang dipakai berulang kali. Kondisi ini dapat berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh.
Kandungan kalori yang tinggi pada gorengan dapat meningkatkan asupan energi harian jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik. Dalam jangka waktu tertentu, hal ini dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan.
Makanan tinggi lemak dapat memperlambat proses pencernaan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada perut. Jika dikonsumsi terlalu sering, kondisi ini dapat memicu keluhan pencernaan.
Mengonsumsi gorengan dalam jumlah banyak saat berbuka dapat membuat perut terasa penuh atau begah. Hal ini dapat membuat tubuh terasa kurang nyaman untuk melanjutkan aktivitas setelah berbuka.
Karena itu, konsumsi gorengan sebaiknya tetap dibatasi agar pola makan selama Ramadan tetap seimbang dan tubuh tetap merasa nyaman saat menjalani puasa.
Baca Juga: Rahasia Membuat Gorengan Crispy
Bagi yang tetap ingin menikmati gorengan saat berbuka puasa, ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar konsumsinya tetap lebih sehat dan tidak berlebihan.
Mengonsumsi gorengan dalam jumlah sedikit dapat membantu mencegah asupan lemak dan kalori berlebih. Sebaiknya cukup satu hingga dua potong sebagai pelengkap, bukan sebagai makanan utama.
Gorengan yang baru dimasak umumnya memiliki kualitas minyak yang lebih baik dibandingkan yang sudah lama disimpan. Minyak yang digunakan berulang kali dapat menurunkan kualitas makanan dan berpotensi berdampak kurang baik bagi kesehatan.
Mengonsumsi gorengan setelah makanan utama dapat membantu mengurangi jumlah yang dimakan. Selain itu, perut yang sudah terisi makanan bergizi dapat membantu mengurangi keinginan makan gorengan secara berlebihan.
Buah dan sayur mengandung serat, vitamin, dan mineral yang penting bagi tubuh. Konsumsi keduanya dapat membantu menyeimbangkan pola makan saat berbuka puasa.
Metode memasak seperti air fryer atau memanggang dapat mengurangi penggunaan minyak. Cara ini dapat menjadi alternatif untuk menikmati makanan dengan tekstur mirip gorengan tetapi dengan kandungan lemak yang lebih rendah.
Untuk menjaga keseimbangan gizi saat berbuka puasa, ada beberapa pilihan takjil yang bisa menjadi alternatif selain gorengan.
Buah mengandung air, vitamin, dan serat yang membantu menyegarkan tubuh setelah berpuasa
Kurma mengandung gula alami yang dapat membantu mengembalikan energi dengan cepat saat berbuka
Sup hangat lebih mudah dicerna oleh tubuh dan dapat membantu menghangatkan serta menenangkan lambung
Kolak dapat menjadi pilihan takjil jika dibuat dengan gula secukupnya agar tidak terlalu tinggi kalori
Smoothie dari buah segar dapat menjadi minuman yang menyegarkan sekaligus memberikan asupan vitamin dan mineral
Puding rendah gula bisa menjadi camilan penutup yang ringan dan tetap nikmat saat berbuka.
Nah, meski enak dan nagih, yuk mulai bijak mengonsumsi gorengan baik sebagai menu berbuka atau dalam makanan sehari-hari. Perbanyak makanan bergizi agar kebutuhan gizi harian Umamichi selama puasa tetap terjaga.
Punya pertanyaan seputar pola makan sehat saat puasa? Yuk, tanyakan langsung ke NutriExpert untuk mendapatkan tips gizi yang tepat sesuai kebutuhanmu.