Cek Fitur Ini di Aplikasi, Yuk!
Fitur ini hanya bisa diakses melalui aplikasi Dapur Umami. Buka aplikasinya sekarang!
Penulis: Aulia Rusdi, S.Gz, Dietisien
Puasa membuat tubuh tidak mendapat asupan makan dan minum selama lebih dari 12 jam, sehingga pengaturan waktu serta kualitas asupan gizi menjadi hal yang penting. Dari sisi ilmiah, makan sebelum periode puasa yang panjang dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil serta mendukung energi dan konsentrasi saat beraktivitas. Sahur menjadi momen penting untuk memenuhi kebutuhan gizi harian agar tubuh tidak mudah lemas atau kekurangan cairan.
Lalu, apakah puasa tanpa sahur aman bagi tubuh? Bagaimana dampaknya terhadap energi dan kesehatan selama berpuasa? Artikel ini akan membahas penjelasan dari sisi gizi mengenai puasa tanpa sahur serta tips menjaga stamina selama berpuasa.
Secara umum, puasa tanpa sahur masih dapat dilakukan oleh orang yang sehat. Namun, melewatkan sahur berarti tubuh tidak mendapatkan tambahan asupan energi dan cairan sebelum menjalani puasa yang cukup panjang. Akibatnya, tubuh akan mengandalkan cadangan energi dari makanan saat berbuka dan makan malam, yang bisa lebih cepat habis sehingga membuat seseorang lebih mudah merasa lapar, lemas, atau sulit berkonsentrasi.
Selain itu, tanpa sahur risiko dehidrasi ringan juga bisa meningkat jika asupan cairan pada malam hari kurang mencukupi. Karena itu, sahur berperan penting dalam membantu menjaga kestabilan energi dan cairan agar puasa dapat dijalani dengan lebih nyaman dan tetap produktif. Oleh karena itu, sahur memiliki peran penting dalam membantu menjaga kestabilan energi, cairan, dan daya tahan tubuh selama menjalankan puasa.
Dari sisi gizi, sahur berfungsi sebagai sumber energi terakhir sebelum tubuh berpuasa selama 12–14 jam atau lebih. Pemilihan jenis makanan yang tepat saat sahur dapat membantu tubuh beradaptasi lebih baik selama menjalani puasa.
Asupan karbohidrat saat sahur membantu mempertahankan kadar gula darah agar tidak turun terlalu cepat di siang hari. Kondisi gula darah yang lebih stabil dapat membantu mencegah rasa lemas dan gemetar.
Energi dari makanan sahur digunakan tubuh untuk mendukung berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, belajar, hingga aktivitas fisik ringan. Tanpa asupan ini, tubuh lebih cepat menguras cadangan energi yang tersedia.
Sahur membantu memperlambat penurunan energi selama berpuasa. Dengan asupan yang cukup, risiko keluhan seperti pusing, sulit fokus, atau cepat lelah dapat berkurang.
Selain makanan, asupan cairan saat sahur penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Minum yang cukup sebelum imsak dapat membantu mengurangi rasa haus berlebihan di siang hari.
Karena itu, sahur sangat dianjurkan terutama bagi individu dengan aktivitas tinggi agar puasa tetap berjalan dengan nyaman dan produktif.
Tidak sahur dapat menimbulkan beberapa efek pada tubuh, terutama jika dilakukan secara terus-menerus selama bulan puasa. Berikut ini beberapa dampak yang dapat muncul.
Tanpa asupan energi sebelum puasa dimulai, tubuh lebih cepat menghabiskan cadangan energi yang tersedia. Hal ini dapat membuat stamina menurun lebih awal dibandingkan jika sahur terpenuhi dengan baik.
Penurunan kadar gula darah yang lebih cepat dapat memengaruhi fokus dan daya konsentrasi. Akibatnya, aktivitas seperti bekerja atau belajar bisa terasa lebih berat.
Karena tidak ada asupan makanan sebelum imsak, tubuh cenderung memberi sinyal lapar lebih awal di siang hari. Kondisi ini bisa membuat puasa terasa lebih menantang.
Tanpa minum saat sahur, cadangan cairan tubuh menjadi lebih terbatas. Jika malam harinya juga kurang minum, risiko dehidrasi ringan dapat meningkat.
Lambung yang kosong dalam waktu lama bisa memicu rasa tidak nyaman, terutama pada individu yang sensitif atau memiliki riwayat gangguan lambung. Selain itu, kurangnya asupan energi juga dapat memicu sakit kepala pada sebagian orang.
Baca Juga: 5 Inspirasi Menu Sahur Cepat dan Sehat
Agar tubuh tetap kuat selama berpuasa, sahur sebaiknya mengandung gizi seimbang dan dipilih dengan cermat. Kombinasi zat gizi yang tepat dapat membantu menjaga energi lebih stabil hingga waktu berbuka.
Karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil lebih lama. Jenis ini membuat rasa kenyang bertahan lebih lama dibandingkan karbohidrat sederhana.
Protein membantu memperlambat proses pengosongan lambung dan mendukung rasa kenyang lebih lama. Selain itu, protein juga berperan dalam menjaga massa otot selama puasa.
Serat membantu memperlambat penyerapan gula dan mendukung kesehatan pencernaan. Konsumsi sayur dan buah saat sahur juga membantu menambah asupan vitamin dan mineral.
Lemak sehat, seperti dari kacang-kacangan atau alpukat, dapat menjadi sumber energi tambahan. Namun, konsumsinya tetap perlu dibatasi agar tidak membuat pencernaan terasa berat.
Memenuhi kebutuhan cairan saat sahur membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh sepanjang hari. Minum air putih secara bertahap sebelum imsak lebih dianjurkan dibandingkan dalam jumlah besar sekaligus.
Selain itu, sebaiknya hindari makanan terlalu manis, asin, atau tinggi lemak karena dapat membuat tubuh lebih cepat lapar, haus, atau terasa tidak nyaman saat berpuasa.
Puasa tanpa sahur sebenarnya masih dapat dilakukan oleh orang yang sehat, tetapi melewatkan sahur dapat membuat tubuh lebih cepat merasa lelah dan lapar. Dari sisi gizi, sahur berperan penting dalam menjaga energi, kestabilan gula darah, dan hidrasi selama berpuasa. Karena itu, jika memungkinkan, sahur tetap dianjurkan dengan menu bergizi seimbang agar tubuh tetap kuat menjalankan aktivitas selama bulan puasa.
Masih bingung memilih menu sahur yang tepat atau punya kondisi kesehatan tertentu saat berpuasa? Yuk, tanyakan langsung ke NutriExpert untuk mendapatkan saran gizi yang sesuai dengan kebutuhanmu agar puasa tetap lancar dan nyaman.