Cek Fitur Ini di Aplikasi, Yuk!
Fitur ini hanya bisa diakses melalui aplikasi Dapur Umami. Buka aplikasinya sekarang!
Penulis: Aulia Rusdi, S.Gz, Dietisien
Tahukah kamu kalau hipertensi sering disebut sebagai silent killer? Penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala, tapi bisa diam-diam merusak tubuh dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, bahkan kematian. Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali apa itu hipertensi dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi saat tekanan darah seseorang naik melebihi batas normal. Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa memicu berbagai masalah kesehatan serius. Seseorang sudah bisa disebut hipertensi jika tekanan darahnya di atas 140/90 mmHg.
Berikut ini adalah klasifikasi hipertensi menurut American Heart Association.
Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami hipertensi karena gejalanya sering kali menyerupai keluhan sehari-hari seperti sakit kepala atau mudah lelah.
Beberapa gejala hipertensi yang bisa muncul antara lain: sakit kepala, mimisan, jantung berdebar, mudah lelah, cepat marah, telinga berdengung, pusing, hingga pingsan. Sayangnya, gejala-gejala ini sering diabaikan atau dianggap biasa saja.
Ada dua jenis faktor yang bisa menyebabkan hipertensi. Pertama, faktor yang tidak bisa kita ubah, seperti usia, jenis kelamin, keturunan, dan ras.
Kedua, faktor yang bisa kita ubah/kendalikan, seperti kebiasaan merokok, terlalu banyak makan makanan tinggi garam atau natrium, kelebihan asupan protein, serta kurang mengonsumsi serat.
Menurut data Riskesdas dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, prevalensi hipertensi terus meningkat, bahkan sejak usia 18 tahun ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa hipertensi bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia yang masih tergolong muda. Karena itu, penting untuk lebih waspada dengan mengatahui faktor-faktor penyebab hipertensi.
Yuk, kita bahas satu per satu agar siap mencegahnya sejak dini!
1. Usia
Seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 65 tahun, risiko hipertensi meningkat karena pembuluh darah cenderung menyempit dan menjadi lebih kaku, akibatnya tekanan darah ikut naik. Kondisi ini banyak terjadi pada lansia, sehingga penting untuk tetap menjaga gaya hidup sehat meski usia terus bertambah.
2. Jenis Kelamin
Jenis kelamin turut memengaruhi risiko hipertensi. Pria cenderung lebih berisiko di usia muda, namun setelah menopause, wanita justru mengalami peningkatan tekanan darah yang lebih tinggi akibat perubahan hormon. Di usia 65 tahun ke atas, prevalensi hipertensi pada wanita bahkan lebih tinggi dibandingkan pria lho.
3. Keturunan (Genetik)
Faktor keturunan juga berperan dalam meningkatkan risiko hipertensi. Jika salah satu orang tua menderita hipertensi, kemungkinan anaknya terkena bisa mencapai 30–45%, apalagi jika dipengaruhi gaya hidup yang tidak sehat. Jadi, penting untuk menjaga gaya hidup sehat agar tetap bisa membantu menekan risikonya.
4. Kegemukan (Obesitas)
Kelebihan berat badan atau obesitas bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Semakin tinggi Indeks Massa Tubuh (IMT), biasanya tekanan darah juga ikut naik. Bahkan, sekitar 20–33% penderita hipertensi diketahui memiliki berat badan berlebih.
Maka dari itu, menjaga berat badan ideal bukan hanya soal penampilan, tapi juga langkah penting untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.
5. Psikososial dan Stress
Stres yang berlangsung terus-menerus bisa memengaruhi kesehatan, termasuk meningkatkan tekanan darah. Saat stres, tubuh melepaskan hormon adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah ikut naik. Karena itu, penting untuk menjaga kesehatan mental dan emosi agar tubuh tetap seimbang dan terhindar dari risiko hipertensi.
6. Merokok
Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko hipertensi karena nikotin dan karbon monoksida dalam rokok mempercepat pengerasan pembuluh darah.
Kebiasaan merokok juga meningkatkan denyut jantung, membuat jantung bekerja lebih keras, dan memperburuk kondisi hipertensi. Jadi, berhenti merokok adalah langkah penting untuk menjaga tekanan darah tetap sehat.
7. Kurang Olahraga dan Aktivitas Fisik
Kurangnya olahraga dapat meningkatkan risiko hipertensi dan masalah jantung karena jantung dan pembuluh darah tidak bekerja secara efisien. Tanpa aktivitas fisik yang cukup, tekanan darah cenderung meningkat, dan sirkulasi darah menjadi kurang lancar.
Oleh karena itu, penting untuk rutin berolahraga agar tekanan darah tetap stabil dan kesehatan jantung terjaga.
8. Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, bahkan hanya dengan 2-3 gelas per hari. Di banyak negara Barat, seperti Amerika, kebiasaan ini berkontribusi signifikan terhadap hipertensi.
Oleh karena itu, penting untuk menghindari alkohol guna menjaga kesehatan tekanan darah.
9. Konsumsi Garam Berlebih
Konsumsi garam berlebihan dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, yang meningkatkan tekanan darah. Bahkan, asupan garam lebih dari 6 gram per hari bisa memicu hipertensi. Oleh karena itu, penting untuk membatasi konsumsi garam agar tekanan darah tetap sehat.
10. Hiperlipidemia/Hiperkolestrolemia
Hiperlipidemia atau Hiperkolestrolemia (kadar kolesterol tinggi dalam darah), dapat menyebabkan penumpukan lemak dalam pembuluh darah, meningkatkan resistansi pembuluh, dan akhirnya menaikkan tekanan darah. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kadar kolesterol agar tekanan darah tetap stabil.
Mengontrol faktor penyebab hipertensi sangatlah penting, karena jika tidak, dapat menyebabkan komplikasi serius lainnya. Jika hipertensi tidak dikelola dengan baik, beberapa komplikasi hipertensi yang mungkin terjadi antara lain:
1. Stroke
Gangguan aliran darah ke otak yang dapat disebabkan oleh sumbatan atau pendarahan pada pembuluh darah otak yang seringkali berhubungan dengan tekanan darah tinggi.
2. Infark Miokard (Serangan Jantung)
Terjadi ketika hipertensi menyebabkan penebalan pada pembuluh darah yang menghambat aliran darah ke otot jantung dan mengarah pada serangan jantung.
3. Gagal Ginjal
Kerusakan ginjal yang progresif, disebabkan oleh penimbunan garam dan air serta gangguan sistem renin-angiotensin-aldosteron yang terkait dengan hipertensi.
4. Ensefalopati (Kerusakan Otak)
Kondisi ini terjadi pada hipertensi berat yang meningkatkan tekanan pada pembuluh darah otak dan bisa berakibat pada kebutaan, koma, atau bahkan kematian.
Memahami faktor risiko dan komplikasi dari hipertensi memang penting karena dampaknya bisa sangat berbahaya, bukan? Namun, kabar baiknya, hipertensi bisa ditanggulangi dengan pola makan dan gaya hidup sehat. Salah satunya dengan DASH Diet (Dietary Approaches to Stop Hypertension).
Diet ini dirancang untuk menurunkan tekanan darah dan kolesterol dengan fokus pada konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta produk susu rendah lemak. Dengan memahami faktor risiko dan mengatur pola makan yang tepat, seperti mengikuti DASH Diet, kamu bisa mengontrol tekanan darah dan meningkatkan kesehatan jantung.
Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak tentang cara hidup sehat, mengatur pola makan, atau menjaga keseimbangan tubuh. Yuk gunakan fitur Tanya NutriExpert dan mulailah perjalanan sehatmu sekarang juga.
Baca Juga: Atasi Hipertensi dengan CERDIK