Cek Fitur Ini di Aplikasi, Yuk!
Fitur ini hanya bisa diakses melalui aplikasi Dapur Umami. Download aplikasinya sekarang!
Penulis: Aulia Rusdi, S.Gz, Dietisien.
Pernah merasa nyeri sendi datang tiba-tiba setelah makan tertentu? Kondisi ini bisa jadi berkaitan dengan asupan purin dalam makanan sehari-hari. Purin adalah senyawa alami yang akan dipecah tubuh menjadi asam urat, dan jika jumlahnya berlebih dapat memicu penumpukan yang berdampak pada kesehatan sendi. Karena itu, penting untuk mengenali sumber makanan tinggi purin agar asupan gizi tetap seimbang dan risiko kekambuhan bisa dikendalikan. Yuk pahami pilihan makanan yang perlu diwaspadai untuk menjaga kadar asam uratmu tetap stabil.
Sebelum mengenali makanan yang perlu dibatasi, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu purin dan bagaimana kaitannya dengan asam urat dalam tubuh. Dengan memahami proses dasarnya, pengaturan pola makan dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Purin adalah senyawa alami yang terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Senyawa ini memiliki peran penting dalam pembentukan DNA dan RNA, sehingga dibutuhkan untuk fungsi tubuh yang normal. Selain diproduksi secara alami oleh tubuh, purin juga diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Oleh karena itu, kadar purin dalam tubuh dipengaruhi oleh produksi internal dan asupan dari luar.
Di dalam tubuh, purin akan dipecah melalui proses metabolisme menjadi asam urat. Proses ini berlangsung terutama di hati, kemudian asam urat akan dikeluarkan melalui ginjal bersama urine. Jika asupan purin berlebih atau proses pembuangan tidak optimal, kadar asam urat dalam darah dapat meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama terjadinya gangguan asam urat.
Ketika kadar asam urat dalam darah tinggi, kelebihannya dapat membentuk kristal kecil yang menumpuk di area sendi. Penumpukan kristal ini memicu peradangan yang menyebabkan nyeri, bengkak, dan rasa panas, yang dikenal sebagai gout. Serangan gout sering terjadi secara tiba-tiba dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini berisiko menyebabkan kerusakan sendi dalam jangka panjang.
Makanan dengan kandungan purin sangat tinggi (sekitar 100–1.000 mg per 100 gram) perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah secara signifikan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali jenis makanan dalam kategori ini agar konsumsinya dapat dibatasi.
Jeroan seperti hati, ginjal, jantung, paru, dan otak mengandung purin sangat tinggi sehingga sebaiknya dihindari atau dikonsumsi sangat jarang karena dapat memicu kenaikan asam urat dengan cepat.
Kerang, udang, kepiting, sarden, dan ikan teri termasuk tinggi purin, sehingga konsumsinya perlu dibatasi agar tidak memicu kekambuhan asam urat.
Daging merah, bebek, angsa, serta daging olahan seperti sosis dan ham mengandung purin cukup tinggi, sehingga sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan.
Kaldu kental, kuah soto, atau sup yang dimasak lama memiliki purin tinggi karena larut dari daging, sehingga sebaiknya dibatasi konsumsinya.
Baca Juga: Makanan Penyebab Asam Urat Tinggi yang Perlu Dibatasi
Selain makanan tinggi purin, terdapat juga kelompok makanan dengan kandungan purin sedang, yaitu sekitar 50–100 mg per 100 gram, yang masih boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Konsumsi yang bijak tetap penting agar asupan gizi seimbang tanpa meningkatkan risiko asam urat.
Daging sapi tanpa lemak, ayam, dan domba mengandung purin sedang (±50–100 mg/100 g), sehingga masih boleh dikonsumsi maksimal 1 porsi per hari.
Ikan seperti kembung, bawal, tuna, dan kakap memiliki kandungan purin sedang, sehingga aman dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tidak berlebihan.
Bayam, buncis, kembang kol, daun singkong, dan jamur termasuk purin sedang, namun tetap dianjurkan karena kaya serat dan mendukung keseimbangan gizi.
Tempe, tahu, kacang kedelai, dan kacang tanah mengandung purin sedang, tetapi tetap baik sebagai sumber protein nabati jika dikonsumsi secukupnya.
Selain dari makanan padat, terdapat beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan kadar asam urat, baik karena mengandung purin maupun menghambat proses pembuangannya dalam tubuh. Memahami faktor ini penting agar pengelolaan asam urat lebih optimal.
Minuman beralkohol, terutama bir, dapat meningkatkan produksi asam urat dan menghambat pembuangannya, sehingga berisiko memicu kenaikan kadar asam urat.
Minuman manis seperti soda dan sirup jagung tinggi fruktosa dapat merangsang pembentukan asam urat dalam tubuh, sehingga konsumsinya perlu dibatasi.
Gorengan dan santan kental dapat memperlambat kerja ginjal dalam membuang asam urat, sehingga berpotensi meningkatkan kadarnya dalam darah.
Untuk membantu mengontrol kadar asam urat, penerapan pola makan rendah purin perlu dilakukan secara konsisten dengan tetap memperhatikan keseimbangan gizi. Pemilihan bahan makanan yang tepat dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh tanpa meningkatkan risiko penumpukan asam urat.
Telur, susu rendah lemak, dan yoghurt merupakan sumber protein rendah purin yang aman dikonsumsi untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian.
Gandum utuh, nasi merah, dan ubi jalar dapat menjadi pilihan karbohidrat yang lebih sehat karena membantu menjaga energi tanpa meningkatkan kadar asam urat.
Buah seperti jeruk, stroberi, dan ceri mengandung vitamin dan antioksidan yang dapat membantu menurunkan kadar asam urat secara alami.
Minum air putih minimal 2–3 liter per hari penting untuk membantu ginjal membuang asam urat sehingga kadarnya tetap terkontrol.
Mengelola asam urat bukan berarti harus berhenti menikmati makanan, tetapi lebih pada mengatur porsi dan memilih jenis makanan dengan bijak agar keseimbangan gizi tetap terjaga. Dengan membatasi makanan tinggi purin, memilih alternatif yang lebih aman, serta menerapkan pola hidup sehat, risiko nyeri sendi dapat diminimalkan dan kualitas hidup tetap optimal.
Jika masih memiliki pertanyaan seputar pola makan atau kebutuhan gizi sesuai kondisimu, jangan ragu untuk berkonsultasi melalui fitur Tanya NutriExpert di Dapur Umami agar mendapatkan saran yang lebih tepat dan terpercaya.